Jumat, 24 Februari 2017

Kenikmatan (Season 2 : Danang Kembali ke Pelukan Ibunda)


http://ompoker.info/?ref=br201608 - Meninggalnya Nyonya Sasi menjadi berita besar pada keesokan harinya. Warga terkejut mendengar kematian Nyonya Sasi yang harus meregang nyawa di tangan Pak Emil selaku kepala desa. Di sisi, warga merasa senang karena sosok juragan desa yang sombong dan menakutkan telah pergi untuk selamanya. Hutang-hutang yang belum sempat mereka lunaskan secara otomatis telah hilang seiring dengan kepergian Nyonya Sasi. Ada yang menganggap kematian Nyonya Sasi sebagai azab dari Tuhan karena sifat sombongnya itu. Ada pula yang menganggap peristiwa ini sebagai langkah bagi desa itu untuk menjalani kehidupan yang baru. Namun dengan rasa solidaritas dan kekeluargaan yang tinggi, warga desa tetap berbondong-bondong mengantar kepergian Nyonya Sasi ke peristirahatannya yang terakhir.

Mungkin hanya Dadang satu-satunya orang yang menangisi kepergian Nyonya Sasi. Air mata terus mengalir membasahi wajahnya seiring tubuh Nyonya Sasi yang telah dibaringkan di liang lahat. Warga menganggap aneh kesedihan Dadang yang terlalu berlebihan. Warga pun merasa kalau Dadang akan mewarisi sifat Nyonya Sasi karena kedekatan mereka selama ini. Padahal alasan Danang bersedih karena baginya Nyonya Sasi adalah sosok wanita yang baik dan telah memberikan segalanya untuknya. Ia sudah terlanjur jatuh cinta pada Nyonya Sasi meski usia mereka yang terpaut sangat jauh. Padahal ia memiliki rencana-rencana hebat bersama Nyonya Sasi suatu hari nanti. Namun semua itu tinggal kenangan dan yang telah terjadi tidak akan bisa di kembalikan.

Sementara Pak Emil telah dijebloskan ke dalam penjara untuk membayar pembunuhan itu meski ia tidak sengaja untuk melakukannya. Bu Anis sendiri memilih untuk bercerai dan ia sangat menyesal mengenal Pak Emil. Ia sangat menyesal karena dengan mudahnya memberikan tubuhnya untuk Pak Emil.

Kini Dadang dan Bu Anis telah kembali ke kehidupan mereka. Dadang memilih untuk menutup diri karena tidak bisa menerima kepergian Nyonya Sasi. Ia lebih banyak menghabiskan waktu didalam rumah setelah mengurus sawahnya dan menjadi seorang pria yang pendiam. Ibunya merasa khawatir dan juga aneh dengan kesedihan Dadang yang berlebihan ini. Disaat warga senang dengan kepergian Nyonya Sasi, Dadang justru menangis dan berharap Nyonya Sasi hidup kembali.

"Kenapa kamu terus bersedih seperti ini ???" tanya Bu Anis kepada anaknya yang terus dirundung kesedihan.

"Aku rindu Nyonya Sasi" jawab Dadang dengan tangis yang terisak. Setiap kali menyebut nama Nyonya Sasi, air mata Dadang terus mengalir.

"Semua orang bahagia karena Nyonya Sasi telah tiada, tapi kenapa kamu malah sedih??" tanya Ibu Anis yang semakin penasaran.

"Ibu tidak tahu kalau aku punya hubungan yang spesial dengan Nyonya Sasi" jawab Dadang dengan jujurnya.

"Hubungan spesial bagaimana maksudnya???" tanya Ibu Anis lagi.

Lalu dengan kejujuran hatinya, Dadang menceritakan semua kisah indahnya dengan Nyonya Sasi. Bu Anis tidak terlalu kaget mendengar kisah persetubuhan anaknya dengan Nyonya Sasi. Ia memilih untuk diam karena ia sendiri juga melakukan hal yang sama dengan Pak Emil dan pria lain. Dadang mengatakan kalau ia sudah jatuh cinta kepada Nyonya Sasi. Ibu nya memakluminya dan menganggap kalau Dadang telah tumbuh menjadi pria dewasa.

Bu Anis hanya berpesan agar Dadang mau melupakan Nyonya Sasi dan memulai hidupnya seperti dulu lagi.

"Aku juga ingin tanya sesuatu pada Ibu" kata Dadang dengan serius.

"Mau tanya apa??" kata Bu Anis yang merasa was-was dengan wajah serius yang ditunjukkan oleh Dadang.

"Ada hubungan apa antara Ibu dan Tristan???" tanya Dadang dan bagaikan petir yang menyambar, Ibu Tristan begitu kaget mendengar pertanyaannya itu.

Ia kaget karena ternyata Dadang telah mengetahui hubungannya dengan sahabat anaknya itu. Tapi rasa kaget itu tidak berlangsung lama. Bu Anis memilih untuk berkata jujur karena anaknya juga telah mengatakan hal yang jujur kepadanya. Ibunya mengakui ada kesepakatan antara Tristan dan juga dengannya. Kesepakatan itu terjadi karena Tristan telah mengetahui affair antara dirinya dan juga Pak Emil jauh Dadang mengetahuinya. Tristan pun memanfaatkan itu untuk mencari uang dengan menjadikannya sebagai pelacur. Bu Anis tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti permintaan Tristan.

Jika tidak, Tristan akan melaporkannya kepada Dadang. Mendengar pengakuan Ibunya itu, Dadang hanya tersenyum mendengarnya. Ternyata apa yang ia duga selama ini benar adanya. Ia sudah menduga kalau Tristan pasti sedang mengancam Ibunya dan juga Pak Emil. Bu Anis rasanya mau pingsan setelah mendengar pengakuan anaknya itu.

Ternyata rahasia yang selama ini ia simpan telah diketahu oleh anaknya. Lalu Dadang kembali jujur kalau ia telah balas dendam dengan menyetubuhi Ibu Tristan dan juga kakaknya. Bu Anis nyaris marah besar karena kelakuan anaknya itu. Tapi ia berusaha untuk meredam amarahanya karena semua ini adalah kesalahannya. Bu Anis merasa gagal sebagai seorang Ibu yang seharusnya membesarkan anaknya dengan kasih sayang. Keduanya pun berpelukan dan menangis.

"Ibu harus janji untuk tidak melakukannya lagi" pinta Dadang.

"Iya nak. Kamu juga harus janji pada Ibu untuk tidak balas dendam lagi" Pinta Bu Anis.

Lalu Ibu dan anak itu saling bertatap-tatapan untuk beberapa saat. Secara spontan Dadang mengecup bibir Ibunya dengan mesra. Bu Anis sedikit kaget tapi tidak berusaha untuk marah. Melihat tidak ada reaksi dari Ibunya, Dadang kembali mengecup bibir ibunya dan kali ini ia bertahan sedikit lama. Bu Anis mulai terbuai karena ciuman hangat anaknya itu. Mulutnya sedikit terbuka dan dengan segera lidah Dadang menyusup masuk ke dalam rongga mulut Ibunya.

Dadang memainkan lidahnya didalam mulut Ibunya. Lalu lidah Bu Anis ikut bergerak dan kini lidah mereka saling menjilat. Dadang mendorong kepala Ibunya agar bibirnya mereka semakin rapat. Dadang membelai punggung Ibunya dan membuka kaitan BH Ibunya dari luar baju Ibunya. Bu Anis masih terbuai dengan ciuman Dadang hingga tidak sadar kalau pengait BH nya telah terbuka. Lalu Dadang semakin memberanikan dirinya dengan menyusupkan tangannya ke dalam celana kain Ibunya. Ia berhasil membelai memek Ibunya dan kini Bu Anis mulai tersadar dari lamunannya. Ia mengeluarkan tangan Dadang dari celananya.

"Kita tidak boleh melakukan ini" kata Ibunya sambil beranjak keluar dari kamar Dadang. Tapi dengan segera Dadang menahan tangan Ibunya dan Ibunya kembali duduk di kasur Dadang.

"Aku sudah lama ingin melakukan ini. Bolehkah aku ngentot dengan Ibu??" tanya Dadang dengan penuh pengharapan.

"Tapi, kita memiliki hubungan sedarah. Kita tidak boleh melakukan ini" jawab Bu Anis.

"Aku mohon, Bu. Aku sudah lama ingin merasakan tubuh Ibu. Aku iri dengan Pak Emil dan Tristan yang bisa mencicipi tubuh Ibu" kata Dadang sambil memohon.

Seberapa kuatnya Dadang memohon, Ibu Anis tetap tidak mau melakukannya karena ia takut akan terkena kutukan bila bersetubuh dengan anaknya sendiri. Dadang pun tidak kehilangan akal. Ia berdiri dan membuka celananya. Kemudian ia memamerkan kontolnya yang besar dan panjang itu kepada Ibunya.

Sontak Bu Anis merasa kaget dengan ukuran kontol Anaknya yang tidak lazim itu. Ia kira selama ini hanya kontol Pak Emil yang memiliki ukuran terbaik, ternyata justru kontol anaknya yang lebih mengerikan. Dadang meraih tangan Ibunya dan meletakannya di kontolnya. Ibu Anis menggenggam kontol Dadang yang terasa hangat di telapak tangannya. Ia begitu takjub melihat kontol anaknya itu yang berwarna hitam gelap, diameter ujung kontolnya juga sangat lebar yang membuatnya berandai-andai ketika kontol itu masuk ke dalam memeknya.

Dadang membiarkan tangan Ibunya mengelus kontolnya. Ia harap setelah ini Ibunya mau bersetubuh dengannya sesuai dengan apa yang ia inginkan sejak dulu. Bu Anis mulai merasakan gairahnya setelah menggenggam kontol Dadang. Ia tidak tahan untuk segera mencicipi kontol Dadang di mulut dan juga memeknya. Dadang mulai menyadari kalau Ibunya sudah mulai bergairah untuk bersetubuh dengannya.

Dadang membuka baju Ibunya dan kemudian melepaskan BH nya. Toket Ibunya yang menggantung indah itu seperti sudah tidak sabar untuk dijamah oleh mulut Dadang. Dengan rakusnya Dadang menghisap kedua pentil Ibunya yang panjang itu. Bu Anis begitu menikmatinya dengan tangannya yang tak mau lepas dari kontol Dadang. Dadang senang sekali karena akhirnya ia bisa merasakan kenikmatan toket Ibunya meski tak lagi padat.

Kemudian Dadang meminta Ibunya untuk berdiri dan melepas celana Ibunya. Dadang tersadar kalau Ibunya mengenakan celana dalam G-String yang pernah diberikan Pak Emil yang merupakan milik Nyonya Sasi. Kembali Dadang teringat akan Nyonya Sasi yang sangat suka mengenakan celana dalam model tersebut.

Kemudian Dadang menenggelamkan wajahnya di selangkangan Ibunya. Ia menghirup aroma selangkangan Ibunya yang sangat khas itu. Kemudian Dadang membuka celana dalam itu dan membelai lembut jembut Ibunya yang lebat hingga menutupi belahan memeknya. Dadang meminta Ibunya untuk berbaring dan melebarkan kedua kakinya. Dadang menyibak bulu jembut itu untuk bisa menjilat memek Ibunya. Ia melihat lubang memek Ibunya yang merekah merah.

Lubangnya tampak sedikit lebar karena sudah ditusuk oleh banyak kontol. Dadang menjilati klitosi Ibunya yang menonjol itu. Bu Anis menggeliat seperti cacing karena gelinya. Ia meremas rambut Dadang dan menekan kepala Dadang agar semakin buas menjilati memeknya. Aliran cairan cinta Bu Anis semakin banyak dan membuat Dadang semakin bersemangat. Ia memasukan tiga jarinya sekaligus kedalam lubang Ibunya. Ia tusuk dengan cepat sembari menjilati klitoris Ibunya.

"Aaahhhh.. Daannggg.. Itiiilll Ibuuuu rasssaaannyyaa eennaaakkk.. Aaahhhh.. Ibu maauuu keluaarrrr.. Ooohhhh" erang Bu Anis.

Sesaat kemudian Bu Anis mulai orgasme. Ia menekan kepala Dadang agar lidahnya terus menjilati klitorisnya. Dadang merasakan dinding memek Ibunya berkedut kencang dan terasa semakin hangat. Lalu ia keluarkan jarinya yang basah dan lengket itu. Kemudia ia memasukkan jarinya ke dalam mulut Ibunya.

Bu Anis menjilatinya dengan penuh penghayatan. Ia begitu menikmati cairan cintanya sendiri. Kemudian Dadang memberikan waktu untuk Ibunya beristirahat guna menikmati sisa-sisa orgasmenya. Sementara itu Dadang sibuk menjilati anus Ibunya yang terlihat sempit dan menantang. Bu Anis tersenyum dalam hati karena baru kali ini ada seeseorang yang menjilati anusnya.

Dadang membasahi jarinya dan menusuk anus Ibunya dengan jari tengahnya. Bu Anis kembali menikmati rasa enak yang tiada tara. Mungkin dikarenakan anusnya masih perawan sehingga masih terasa sempit dan nikmat.

"Sini kontolmu. Giliran Ibu yang pengen merasakan kontol gede" kata Bu Anis.

Lalu Dadang berbaring di atas kasurnya. Bu Anis mengocok kontol Dadang sambil menatap wajah anaknya yang sangat menikmati kocokannya itu. Kerasnya kontol Dadang membuat Bu Anis betah untuk terus mengocoknya. Kemudian Bu Anis mulai menjilati batang kontol Dadang dan juga menghisap buah zakarnya. Dadang menggeliat dan mengerang ketika Ibunya menggelitik lubang kontolnya dengan lidahnya. Kontolnya tak berhenti berkedut dan pelumasnya terus mengalir.

Kemudian Bu Anis memasukkan kontol Dadang ke dalam mulutnya. Bu Anis terlihat kesulitan karena besarnya kontol anaknya itu. Ia pun menghisap kontol Dadang dengan perlahan sambil terus mengocok kontol anaknya. Tangan Dadang juga tak berhenti meremas toket Ibunya itu. Lalu Ibu Anis melakukan deep throat sehingga batang kontol Dadang mentok di ujung kerongkongannya. Ia bertahan hingga 15 detik sebelum akhirnya tersedak-sedak.

Tapi ia tidak mau menyerah dan terus melakukan deep throat hingga kerongkongannya mulai terasa kebas. Bu Anis terlihat bahagia sekali dan ia seperti seorang wanita binal yang maniak kontol, ia tidak peduli akan pandangan anaknya yang menganggap seperti seorang pelacur yang ketagihan kontol. Ia terus menjilat dan mencium batang kontol Dadang. Sementara Dadang hanya tersenyum melihat tingkah Ibunya itu. Ia biarkan Ibunya untuk menikmati kontolnya yang ia suka.

"Ayo kita ngentot sayang" ajak Bu Anis yang telah bersiap mengambil posisi nungging di samping Dadang.

"Aku gak mau. Tadi Ibu melarangku untuk bersetubuh dengan Ibu" tolak Dadang yang sebenarnya hanya berpura-pura untuk memancing nafsu Ibunya.

"Tadi ibu hanya bercanda. Ayo sini masukin kontol kamu ke memek Ibu" kata Bu Anis sambil memperlihatkan lubang memeknya.

"Gak mau ah. Nanti kita bisa kena kutukan" jawab Dadang seperti kata Ibunya yang di awal tadi.

"Jangan gitu sayang. Itu sama aja kamu nyiksa Ibu. Ayo sini kontolin memek Ibu. Buat Ibu seperti lonte yang haus kontol" rengek Ibu Anis.

Dadang tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Ibunya itu. Dadang beruntung sekali bisa memiliki Ibu yang binal seperti Ibunya. Lalu Dadang segera mengambil posisi enak untuk bisa menikmati memek Ibunya itu.

Dadang tusukan kontolnya dengan sangat mudah hanya dalam sekali tekan. Bukan Dadang yang menggerakkan pinggulnya, justru Ibunya yang berinisiatif lebih dulu menggenjot kontol Dadang dengan gerakan maju mundur. Dadang hanya diam sambil sesekali memukul pantat Ibunya yang besar itu. Sesekali Bu Anis menggoyangkan pantatnya dengan cara diputar sehingga kontol Dadang semakin terasa nikmat didalamnya. Kali ini Dadang ikut menggerakan pinggulnya.

Keduanya saling beradu kasih yang membuat keduanya semakin tenggelam dalam lembah kenikmatan. Dadang menarik rambut Ibunya sehingga sambil terus menusuk kontolnya. Bu Anis tidak bisa membohongi dirinya kalau ia sangat menikmatinya. Setiap tusukan kontol Dadang semakin membuatnya gairah. Sesaat kemudian Bu Anis telah orgasme untuk kedua kalinya. Dadang merasakan kontolnya semakin di jepit dan hangat.

"Ibu keluar lagi. Memek Ibu gak tahan disodok kontol besar" kata Bu Anis.

"Yaudah Ibu istriahat aja dulu" kata Dadang yang ingin memberikan Ibunya waktu untuk beristirahat.

"Gak usah. Kamu entot aja memek Ibu lagi. Entot lontemu ini dengan sodokan yang nikmat" suruh Bu Anis yang tidak ingin Dadang berhenti menyodok kontolnya.

Dadang pun mendengar apa yang di suruh Ibunya. Dadang kembali menggenjot memek Ibunya dan kali ini dengan tempo yang sedang. Ia ingin Ibunya semakin gairah dan memohon untuk terus digenjot. Dadang memang sangat suka memancing gairah Ibunya agar permainan mereka semakin hot.

"Ibu mau di atas. Gantian Ibu yang mau memekin kamu" pinta Bu Anis sambil menggeser tubuhnya.

Dadang kembali berbaring dan Ibunya langsung memasukkan kontol Dadang ke dalam memeknya. Kali ini Ibunya semakin liar dengan gerakan yang tidak bisa dikendalikan. Dadang menyuruh Ibunya untuk bergerak perlahan, tapi Ibunya tidak mau mendengarkannya. Pinggulnya seakan tidak mau berhenti dan terus menggenjot kontol Dadang. Suara denyitan kasur Dadang mulai terdengar. Suara itu semakin terdengar nyaring ketika Ibu Dadang dengan kuatnya menghentakkan pinggulnya.

Kasur Dadang yang sudah lapuk membuat suara denyitan itu terdengar nyaring dan kuat. Dan BBRRRAAAKKK, kasur Dadang pun akhirnya roboh karena tidak mampu menahan beban akibat genjotan Ibunya yang tidak terkendali. Dadang sempat merasakan serangan jantung ringan. Sementara Ibunya seakan tidak merasakan apa-apa dan terus menggenjot Dadang meski kasur Dadang telah roboh. Bu Anis menarik kepala Dadang untuk menghisap toketnya. Dengan sigapnya Dadang melahap kedua gunung kembar milik Ibunya itu.

Ia bernafsu sekali menghisapnya hingga kedua puting Ibunya semakin panjang dan membesar.

"Kamu suka di memekin atau di kontolin???" tanya Bu Anis di sela-sela genjotannya.

"Aaakuuu.. Aaakuu suka dua-duanya Bu... Aaaasshh.. Pelan Bu" pinta Dadang yang mulai merasakan ngilu di kontolnya.

"Aaahh, Kalau ibu sukaaa di memekinnnn. Ibuuu jadi bebas ngentot kontol kamuuuu.. Aaaahhhh.. Uuuhhh" erang Bu Anis yang semakin tidak terkendali.

Dadang suka sekali melihat Ibunya yang binal itu. Ia semakin gemas dan semakin bergairah dengan kebinalan Ibunya itu. Karena terlalu bersemangat, tenaga Bu Anis mulai kendur dan ia pun sudah tak sanggup lagi menggenjot kontol anaknya.

"Aaahh.. Ibu capek... Gantian kamuu yang kontolin Ibu" pinta Bu Anis dengan nafas yang naik turun.

Dadang menggenjot memek Ibunya dengan menggerakan pinggulnya naik dan turun. Ia melakukannya dengan pelan agar ia bisa menikmati gesekan antara batang kontolnya dan juga dinding memek Ibunya. Tapi Bu Anis tampak tidak puas dan meminta anaknya untuk melakukannya dengan lebih cepat. Ia pun merasakan orgasmenya akan segera tiba.

"Daaanngg, Entot yang cepat.. Loyo banget sih kamu" rengek Ibunya sambil memukul dada Dadang.

"Aku mau Ibu memohon" pancing Dadang dan ia pun menghentikan genjotannya untuk mendengar suara permohonan dari Ibunya.

"Dadaangg sayanggg.. Entot memek Aniiss ya.. Entott yang kuaaattt.. Soalnya memek Aniss udah mauu muncrat nih" mohon Bu Anis.

Setelah mendengar permohonan Ibunya, barulah Dadang kembali menggenjot memek Ibunya dengan tempo yang luar biasa cepatnya. Dadang mengerahkan seluruh tenaganya dan berharap ia segera mendapatkan orgasmenya.

Dadang merasakan orgasme Ibunya yang tak terkendali. Bu Anis mengerang dan mendesah dengan hebatnya, ia tidak peduli apakah desahannya itu terdengar sampai ke luar rumahnya. Dadang pun juga sudah mulai merasakan orgasmenya sudah dekat. Dadang semakin cepat hingga memek Ibunya terasa perih.

"Hentikkaaann... Hentikannnn !!" jerit Ibu Anis yang tidak kuat menahan sakit di memeknya.

Dadang tidak berhenti dan terus menggenjotnya. Air liur Ibunya bertumpahan di dadanya seperti anjing yang terkena rabies. Bu Anis mulai menangis karena tak sanggup menahan perih. Dan akhirnya orgasme Dadang pun tiba. Dengan sekuat tenag ia menancapkan kontolnya semakin dalam hingga menyentuh rahim Ibunya.

Ia keluarkan seluruh cairan panasnya di dalam memek Ibunya. Bu Anis merasakan betapa hangat nya sperma anaknya itu. Ia merasakan aliran sperma Dadang masuk ke dalam rahimnya. Bu Anis memeluk Dadang dengan erat dan ia takjub karena Dadang tidak berhenti mengeluarkan hingga belasan kali semprotan.

"Kenapa pejuhmu begitu banyak?" tanya Bu Anis.

"Aku tidak tahu, Bu. Aku selalu begitu setiap kali keluar" jawab Dadang yang tidak tahu penyebabnya.

Lalu keduanya pun terkulai lemas tak berdaya. Kontol Dadang masih menancap di dalam memek Ibunya sambil merasakan pijatan lembut dinding memeknya. Tanpa sadar keduanya pun mulai tertidur karena kelelahan. Keduanya tidur sambil berpelukan dengan kontol Dadang yang tetap menancap di memek Ibunya.

0 komentar:

Posting Komentar

 
close
Agen Togel Online Terpercaya Di Indonesia